Mengenal Sejarah Penamaan Gapura, Mandala, dan Grujugan di Sumenep

SUMENEP, LensaMadura.com – Kecamatan Gapura di bagian timur Kabupaten Sumenep menyimpan jejak sejarah yang masih hidup melalui nama-nama desanya.

Selain menjadi nama kecamatan, “Gapura” juga digunakan oleh tiga desa, yakni Gapura Barat, Gapura Tengah, dan Gapura Timur. Di kawasan yang sama, terdapat pula Desa Mandala dan Desa Grujugan yang memiliki kisah penamaan tersendiri.

Berdasarkan Kecamatan Gapura dalam Angka 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, Kecamatan Gapura memiliki luas 65,88 kilometer persegi dan membawahi 17 desa.

Gapura Barat berada di pusat kecamatan dengan luas 3,66 kilometer persegi. Sementara Gapura Tengah yang berjarak sekitar satu kilometer dari pusat kecamatan memiliki luas 4,99 kilometer persegi, sedangkan Gapura Timur seluas 2,63 kilometer persegi berada sekitar empat kilometer ke arah timur.

Media Center Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sumenep menelusuri asal-usul nama desa-desa tersebut sebagai bagian dari kajian sejarah penamaan wilayah di Kabupaten Sumenep.

Gapura dan Jejak Pintu Gerbang Kerajaan

Secara bahasa, gapura berarti pintu gerbang. Dalam pelafalan masyarakat Madura, nama itu diucapkan “Gappora” dengan makna yang sama.

Buku Sejarah Sumenep (2003) menyebut kata gapura berkaitan dengan salah satu Asmaul Husna, yakni Al-Ghafur, yang berarti Maha Pengampun. Secara filosofis, pintu gerbang dipandang sebagai simbol harapan agar setiap orang yang melaluinya memperoleh ampunan dari Tuhan.

Dalam perkembangannya, gapura menjadi bagian penting dari bangunan-bangunan sakral maupun kawasan permukiman, seperti masjid, keraton, hingga pintu masuk kampung.

Menurut Sekretaris Desa Gapura Barat, Rahmat Hidayat, nama Gapura berasal dari keberadaan sebuah pintu gerbang besar yang pernah berdiri di kawasan tersebut.

“Menurut cerita turun-temurun, disebut Gapura karena di sini dibangun pintu gerbang besar, atau yang dikenal dengan gapura,” kata Rahmat kepada Media Center Diskominfo Sumenep.

Rahmat mengatakan bangunan asli sudah tidak ada. Sebagai penanda, masyarakat kemudian membangun penggantinya.

“Kalau yang asli sudah tidak ada lagi, entah sejak kapan hilangnya,” ujarnya.

Bendahara Desa Gapura Barat, Iktoyo, menyebut cerita itu kerap dikaitkan dengan tokoh legendaris Keraton Sumenep, Jokotole. Namun, ia mengakui sumber sejarah mengenai kisah tersebut kini semakin sulit ditemukan.

Versi lain menghubungkan keberadaan gapura itu dengan Aria Wigananda, putra sekaligus penerus Jokotole sebagaimana disebut dalam Babad Songennep (1914). Tokoh yang diperkirakan hidup pada abad ke-15 itu diyakini pernah memindahkan pusat pemerintahan Sumenep ke kawasan yang kini menjadi Kecamatan Gapura.

Makam Aria Wigananda dipercaya berada di Kampung Talese’, Desa Gapura Barat. Warga setempat mengenalnya sebagai Buju’ Wigonanda. Meski demikian, keberadaan bekas pusat pemerintahannya belum dapat dipastikan.

Mandala, Pusat Berkumpulnya Warga

Di antara Desa Gapura Tengah dan Gapura Timur terdapat Desa Mandala. Desa dengan luas 1,64 kilometer persegi itu merupakan wilayah terkecil di Kecamatan Gapura.

Asal-usul nama Mandala hingga kini belum diketahui secara pasti.

Sekretaris Desa Mandala, Fawaid, mengatakan pemerintah desa masih berupaya menelusuri sejarah penamaan wilayah tersebut.

“Terus terang kami sendiri masih mencari tahu soal itu,” kata Fawaid.

Meski belum menemukan sumber tertulis, masyarakat setempat mewarisi cerita lisan bahwa di sebelah utara balai desa dahulu terdapat lokasi berkumpulnya warga ketika dipanggil oleh pemimpin wilayah menggunakan tiupan terompet.

“Dulu di sini merupakan tempat warga jika dipanggil untuk berkumpul melalui tiupan terompet,” ujarnya.

Secara etimologis, kata mandala dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari Sanskerta berarti lingkaran atau pusat. Makna itu dinilai sejalan dengan fungsi kawasan tersebut sebagai titik berkumpul masyarakat pada masa lalu.

Grujugan dan Kisah Air Terjun yang Hilang

Desa Grujugan berada sekitar enam kilometer di timur pusat Kecamatan Gapura dengan luas 3,46 kilometer persegi. Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat lebih sering menyebutnya Gurujugan.

Terdapat dua versi mengenai asal-usul nama desa ini.

Versi pertama menyebut Gurujugan berasal dari kata garujuk, yang berarti melempari sesuatu secara beramai-ramai menggunakan batu. Kisah itu dikaitkan dengan perlawanan warga saat perang antara Sumenep dan Bali pada abad ke-16.

Namun, perangkat Desa Grujugan memiliki penjelasan berbeda.

Sekretaris Desa Grujugan, Laksono, mengatakan nama Gurujugan berasal dari keberadaan air terjun yang dahulu berada di salah satu bukit di wilayah tersebut.

“Dulu ada air terjun di salah satu bukit di sini. Namun sekarang sudah tinggal bekasnya. Dari saking derasnya, bunyi air terjun tersebut terdengar di seluruh desa, makanya disebut Gurujugan,” kata Laksono.

Meski air terjun itu kini telah hilang, kisahnya tetap diwariskan dari generasi ke generasi dan diyakini menjadi asal mula penamaan Desa Grujugan. (*)