SUMENEP, LensaMadura.com – Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Sumenep, Qumri Rahman, menyoroti kondisi petani tembakau di Madura yang dinilai belum mendapat perhatian memadai dari pemerintah, meski kontribusinya terhadap negara tergolong besar.
Qumri mengatakan Madura merupakan salah satu sentra produksi tembakau di Jawa Timur, bersama Situbondo, Probolinggo, Bondowoso, dan Bojonegoro.
Komoditas ini, kata dia, menjadi penopang ekonomi daerah sekaligus sumber penghidupan ribuan keluarga petani, yang mayoritas berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama.
“Petani tembakau di Madura bukan sekadar pelaku ekonomi, tetapi bagian dari warga Nahdliyin yang turut menggerakkan roda perekonomian nasional,” ujar Qumri, Minggu, 5 April 2026.
Ia mengutip pembahasan dalam Rapat Kerja Wilayah GP Ansor Jawa Timur di Malang yang menyebutkan penerimaan negara dari cukai hasil tembakau pada 2024 mencapai Rp216,9 triliun.
Angka itu melampaui sektor sumber daya alam, baik migas maupun nonmigas, yang sebesar Rp207 triliun, serta dividen badan usaha milik negara (BUMN) senilai Rp85,8 triliun.
“Ini menunjukkan kontribusi sektor tembakau sangat besar. Namun kesejahteraan petaninya belum sepenuhnya terjamin,” kata dia.
Pengasuh Pondok Pesantren Tholaburridho Batuan, Sumenep, itu menambahkan Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar penerimaan cukai tembakau nasional. Hal ini ditopang oleh industri rokok dan produksi tembakau dari sejumlah daerah, termasuk Madura.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia, dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) terus disalurkan ke daerah untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, termasuk petani.
Namun, menurut Qumri, implementasi program tersebut di lapangan masih perlu diperkuat agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani.
Alumnus Pesantren Sidogiri, Pasuruan, itu juga menyebut mayoritas konsumen rokok di Indonesia berasal dari kalangan warga NU.
Karena itu, keberpihakan pada petani tembakau dinilai sejalan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan warga Nahdliyin.
“Merokok telah menjadi bagian dari kultur di kalangan warga NU. Karena itu, penting memastikan perputaran ekonomi sektor ini berpihak pada petani,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani tembakau, mulai dari menjaga stabilitas harga, melindungi hasil panen, hingga memperbaiki akses distribusi.
“Perlu dikawal mulai dari harga pupuk, hasil panen, hingga keadilan bagi petani tembakau,” kata dia. (*)