SUMENEP, LensaMadura.com – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa pendampingan bagi guru sekolah dasar untuk mengembangkan pembelajaran berbasis budaya keris dan literasi ekologi.
Kegiatan yang bekerja sama dengan Kelompok Kerja Guru (KKG) 01 Kecamatan Kota Sumenep itu diikuti 20 guru SD dan digelar di salah satu hotel di Kabupaten Sumenep pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Mohamad Iksan, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas guru menjadi bagian penting dalam meningkatkan mutu pendidikan sekaligus memperkuat karakter peserta didik melalui pembelajaran yang kontekstual.
“Guru memang harus mampu menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa. Potensi budaya lokal, seperti keris, serta kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi sumber belajar yang menarik sekaligus membangun karakter peserta didik,” kata Iksan.
Menurut dia, kegiatan pendampingan yang dilakukan UNESA menjadi salah satu upaya menghadirkan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan budaya lokal dan lingkungan sebagai sumber belajar.
Ketua Tim PKM UNESA, Prof. Wiryanto, mengatakan program tersebut tidak hanya memberikan materi kepada peserta, tetapi juga melatih guru menyusun perangkat pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.
“Pembelajaran akan lebih bermakna ketika siswa belajar dari lingkungan dan budayanya sendiri. Keris bukan hanya warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai filosofis, matematis, historis, dan karakter yang dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran,” ujarnya.
Ketua KKG 01 Kecamatan Kota Sumenep, Ali Harsojo, mengatakan guru membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan agar mampu mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Ia berharap kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas guru terus diperkuat untuk mendorong inovasi pembelajaran berbasis potensi lokal.
Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya mendukung peningkatan kompetensi guru, tetapi juga menjadi upaya melestarikan budaya keris, meningkatkan literasi ekologi, serta mengembangkan kemampuan berpikir logis matematis siswa sekolah dasar.
Selain Prof. Wiryanto, kegiatan tersebut menghadirkan narasumber H. Ibnu Hajar, KH K.M. Musthafa, dan Ike Yuli Mestika Dewi yang menyampaikan materi tentang pendidikan, budaya, dan lingkungan. (*)






