SUMENEP, LensaMadura.com – Madura Culture Festival atau MCF 4 Tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni dan budaya.
Festival yang digelar di GOR A. Yani Pangligur, Sumenep, itu juga melibatkan ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.
Para pelaku UMKM memanfaatkan festival untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat dan pengunjung. Produk yang ditawarkan beragam, mulai dari kuliner khas Madura, kerajinan tangan, hingga olahan hasil pertanian.
Kehadiran UMKM menjadi bagian dari upaya menghubungkan potensi budaya dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Festival membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar sekaligus membangun jejaring dengan konsumen dan mitra usaha.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan keterlibatan UMKM menunjukkan bahwa pengembangan budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
“Melalui Madura Culture Festival menunjukkan bahwa budaya dan ekonomi bisa berjalan beriringan. UMKM yang ikut serta di acara ini merupakan bentuk nyata untuk bersama menggerakkan ekonomi daerah berbasis potensi lokal,” kata Fauzi saat mengunjungi stan UMKM MCF 4, Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurut Fauzi, festival semestinya tidak hanya menjadi tempat mempromosikan produk. Pelaku UMKM juga perlu memperoleh peluang untuk memperluas jaringan usaha dan meningkatkan akses pasar.
“Kami berharap momentum ini tidak hanya menjadi ajang promosi sesaat, tetapi mampu membuka peluang lebih luas, termasuk akses pasar digital dan kemitraan yang lebih baik,” ujarnya.
Fauzi mengatakan penguatan UMKM menjadi penting karena sektor tersebut memiliki peran dalam menggerakkan perekonomian daerah. Potensi produk lokal, kata dia, perlu terus dikembangkan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Selain menghadirkan pelaku UMKM, pembukaan MCF 4 dimeriahkan penampilan dua grup musik tong-tong asal Sumenep. Musik tradisional tersebut menjadi salah satu kesenian Madura yang ditampilkan dalam festival.
Menurut Fauzi, keberadaan UMKM dan seni tradisional dalam satu kegiatan menunjukkan potensi masyarakat yang dapat dikembangkan secara bersamaan. Budaya dapat menjadi ruang promosi, sedangkan produk lokal menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.
Ia berharap pelaku UMKM dapat memanfaatkan berbagai kegiatan daerah sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas pemasaran, dan membangun kemitraan.
“UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi tumbuh secara berkelanjutan dan menjadi motor penggerak utama ekonomi daerah yang memiliki daya saing tinggi,” kata Fauzi. (*)







