PAMEKASAN, LensaMadura.com – Sebanyak 1.050 pelajar SMA Negeri 2 Pamekasan mengikuti program I-League Goes to School musim 2026/2027, Jumat, 17 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan sepak bola profesional dengan lingkungan pendidikan.
Dua pemain Madura United, Jessey Wehrmann dan Giovani Numberi, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Interaksi langsung dengan pemain menjadi salah satu agenda untuk memperkenalkan kompetisi sepak bola profesional kepada para pelajar.
Pamekasan menjadi salah satu dari 20 kota yang masuk dalam rangkaian I-League Goes to School musim ini. Pemilihan kota tersebut berkaitan dengan status Pamekasan sebagai homebase Madura United yang berlaga di kompetisi BRI Super League.
Kepala SMA Negeri 2 Pamekasan Moh Arifin menyambut baik kegiatan tersebut. Menurut dia, kehadiran pemain profesional di lingkungan sekolah dapat memberikan pengalaman sekaligus motivasi bagi siswa.
“Kami tentu merasa bangga karena sekolah kami dipilih. Semoga kegiatan ini bisa menjadi motivasi bagi siswa,” kata Arifin.
Manager Club and Community I.League Hanif Marjuni mengatakan I-League Goes to School telah berjalan selama tiga musim. Program tersebut menjadi bagian dari upaya I.League memperkenalkan sepak bola profesional kepada kalangan pelajar dan sebelumnya juga dikembangkan melalui program Goes to Campus.
Di Pamekasan, rangkaian kegiatan diawali dengan I-League Goes to Campus di Universitas Madura sebelum dilanjutkan ke SMA Negeri 2 Pamekasan.
Menurut Hanif, kota yang menjadi basis klub profesional dipilih agar interaksi antara sepak bola profesional dan lingkungan pendidikan dapat berlangsung lebih dekat.
“Artinya ini bisa menjadi bagian dari kami untuk menginformasikan bahwa sekarang sepak bola itu sudah menjadi industri,” ujar Hanif.
Ia mengatakan perkembangan industri sepak bola juga membuka peluang kerja di luar profesi sebagai pemain. Berbagai bidang pendukung dibutuhkan untuk menopang pengelolaan klub dan kompetisi profesional.
Hanif menyebut kalkulasi BRI Research Institute pada dua musim sebelumnya mencatat perputaran ekonomi industri sepak bola mencapai Rp10,4 triliun.
“Banyak profesi yang bisa digeluti di balik industri sepak bola, dari media officer, medical officer, GC, bahkan data analyst,” katanya.
Karena itu, kata Hanif, pelajar perlu melihat sepak bola dari perspektif yang lebih luas. Ekosistem olahraga tersebut tidak hanya membutuhkan atlet, tetapi juga tenaga profesional dari berbagai bidang.
Program I-League Goes to School di SMA Negeri 2 Pamekasan kemudian diisi dengan sejumlah agenda yang melibatkan para siswa, termasuk interaksi bersama pemain Madura United. Kegiatan itu sekaligus menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal lebih dekat kompetisi dan ekosistem sepak bola profesional. (*)






