MAGELANG,LensaMadura.com – Organisasi kemasyarakatan (Ormas) Lindu Aji menggelar Lindu Aji Culture Fest 2026 di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu 13 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya Nusantara sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif dan kepedulian sosial.
Gelaran budaya tersebut menghadirkan sekitar 1.000 penampil jatilan, puluhan pelaku UMKM, serta kegiatan sosial berupa santunan kepada 550 anak yatim, fakir miskin dan lansia. Sekitar 10.000 anggota Lindu Aji turut hadir memeriahkan kegiatan tersebut.
Ketua Dewan Pembina Lindu Aji Mayjen (Purn) Fauka Noor Farid, yang juga disebut sebagai Utusan Khusus Presiden dan Komandan Tim 08, mengatakan pemilihan kawasan Candi Borobudur bukan tanpa alasan. Menurutnya, Borobudur memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal yang dikenal hingga dunia internasional.
“Dipilihnya objek wisata Candi Borobudur karena mengandung sejarah nenek moyang kita yang dikenal dunia internasional dan kearifan lokal,” ujar Fauka.
Ia menilai Candi Borobudur menjadi simbol penting dalam upaya menjaga warisan budaya. Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan Nusantara.
Fauka mengatakan, Lindu Aji selama ini memang dikenal dalam berbagai kegiatan olahraga. Namun, melalui kepengurusan baru, organisasi tersebut ingin memperluas kiprah dengan menghidupkan kembali semangat nguri-uri budaya, sekaligus memperkuat kegiatan sosial dan ekonomi kerakyatan.
Salah satu agenda yang akan dikembangkan adalah parade budaya. Fauka menegaskan kegiatan tersebut direncanakan menjadi program tahunan Lindu Aji sebagai ruang bagi anggota dan masyarakat untuk mengenalkan sekaligus menjaga keberagaman budaya Nusantara.
“Parade budaya ini akan menjadi program Lindu Aji setiap tahun,” katanya.
Tegaskan Lindu Aji Bukan Arah Partai Politik
Masuknya Fauka dalam struktur pembinaan Lindu Aji membawa arah baru bagi organisasi tersebut. Ia ingin menjadikan Lindu Aji sebagai wadah pengabdian kepada bangsa dan negara melalui kegiatan sosial, budaya, olahraga dan kemasyarakatan.
Fauka juga menegaskan belum memiliki rencana membawa Lindu Aji menjadi partai politik. Ia justru ingin mengubah stigma terhadap organisasi kemasyarakatan tersebut dengan memperkuat kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Saya ingin menunjukkan bahwa ini adalah ormas yang peduli dengan bangsa, tradisi, dan budayanya. Saya ingin merubah stigma ormas ini,” ujarnya.
Minta Anggota Jadi Mitra TNI-Polri
Dalam kesempatan tersebut, Fauka juga mengingatkan seluruh anggota Lindu Aji agar tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. Ia meminta setiap permasalahan diselesaikan melalui musyawarah dan koordinasi dengan aparat keamanan.
“Saya tekankan kepada seluruh anggota, ormas Lindu Aji mitra TNI Polri. Menyelesaikan masalah dengan musyawarah, bukan dengan otot,” tegasnya.
Ia juga meminta jajaran Lindu Aji di berbagai daerah membangun koordinasi dengan Kodim dan Polres setempat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Kita kan punya banyak DPC di seluruh Jateng, jadi tugas Kamtibmas-nya diatur dan dikoordinasikan dengan Kodim dan Polres daerah setempat. Tidak boleh menjadi ‘APH’ sendiri dan arogan,” lanjut Fauka.
Lindu Aji Berkembang Sejak 1989
Lindu Aji bermula dari kelompok yang didirikan Ikhwan Ubaidillah pada 1989. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi yayasan sosial sebelum berubah menjadi organisasi kemasyarakatan pada 2015.
Dalam perkembangannya, Lindu Aji menyebut memiliki sekitar 100 ribu anggota yang tersebar di berbagai wilayah, terutama Jawa Tengah. Basis anggotanya juga banyak berasal dari kalangan pekerja informal, seperti tukang parkir, sekuriti dan kelompok masyarakat lainnya.
Melalui kepengurusan periode 2026–2031, Lindu Aji ingin memperluas kiprahnya di bidang sosial, olahraga, seni, budaya dan ekonomi kreatif.
Lindu Aji Culture Fest 2026 di kawasan Candi Borobudur menjadi salah satu langkah untuk memperkuat arah baru tersebut. Selain menjadi panggung bagi kesenian tradisional, kegiatan ini juga diposisikan sebagai sarana pemberdayaan UMKM dan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

