LENSAMADURA.COM – Ada jalan yang tak selalu ramai dilalui. Tak dipenuhi tepuk tangan, tak pula menjadi perbincangan setiap hari. Jalan itu sunyi, tetapi justru di sanalah banyak kebaikan tumbuh tanpa banyak diketahui orang.
Lebih kurang dua bulan terakhir, jalan sunyi itu ditempuh Detikzone.id melalui Program Berbagi Setiap Hari. Nyaris tanpa jeda, media yang selama ini dikenal menyajikan informasi itu menyisihkan ruang bagi kerja-kerja kemanusiaan.
Hari demi hari, mereka menyapa anak-anak yatim, kaum dhuafa, lansia, buruh harian, tukang becak, pemulung, penyandang disabilitas, hingga keluarga yang sedang berjuang menghadapi kesulitan ekonomi.
Bagi sebagian orang, apa yang diberikan mungkin tak seberapa. Namun, bagi mereka yang menerima, perhatian sering kali jauh lebih berarti daripada besarnya nilai bantuan.
Sebungkus sembako, santunan sederhana, atau sekadar sapaan hangat mampu menghadirkan keyakinan bahwa masih ada tangan yang bersedia menggenggam mereka.
Di tengah derasnya arus informasi yang bergerak dari detik ke detik, Detikzone.id memilih tidak hanya menjadi saksi berbagai peristiwa. Media itu juga berupaya menjadi bagian dari cerita-cerita kecil tentang kepedulian. Sebuah ikhtiar yang mereka sebut sebagai Jurnalisme Ihdinas Sirotol Mustaqim.
Pemimpin Redaksi Detikzone.id, Igusty Madani, mengatakan gagasan itu berangkat dari keyakinan sederhana bahwa media semestinya tidak berhenti pada ruang pemberitaan.
Di luar redaksi, selalu ada ruang untuk berbagi, menebar kepedulian, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Setiap senyum anak yatim adalah anugerah yang tak ternilai. Kami percaya rezeki menjadi lebih berkah ketika di dalamnya ada hak saudara-saudara kita yang membutuhkan. Karena itu kami ingin terus istiqamah berbagi setiap hari,” ujarnya.
Bagi Igusty, berita memang memiliki usia. Ia terbit, dibaca, lalu berganti dengan peristiwa baru. Namun, kebaikan memiliki cara berbeda untuk bertahan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa syukur, dan dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.
Memasuki bulan kedua, langkah kecil yang dilakukan setiap hari perlahan menjelma menjadi kebiasaan. Bukan sekadar program sosial, tapi pengingat bahwa kerja jurnalistik juga dapat menjadi jalan untuk merawat empati.
Mungkin inilah yang dimaksud jalan sunyi. Jalan yang tak selalu menghasilkan sorotan, tetapi menyisakan jejak yang tak mudah terhapus.
Sebab, setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus bukan hanya memberi manfaat di dunia, tapi juga menjadi ikhtiar menuai dimensi ukhrawi, sebuah harapan agar setiap langkah yang tampak sederhana bernilai di hadapan Tuhan. (*)






