PAMEKASAN, LensaMadura.com – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Tlanakan resmi memulai masa khidmah 2025–2028 setelah jajaran pengurusnya dilantik di Aula Rektorat UIN Madura, Pamekasan, Rabu, 29 Juli 2026.
Kepengurusan baru itu mengusung dua agenda utama sebagai arah gerakan organisasi selama tiga tahun ke depan, yakni memperkuat ideologi kader dan membangun kemandirian ekonomi organisasi.
Pelantikan berlangsung khidmat dengan dihadiri Wakil Ketua DPRD Pamekasan, jajaran Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kabupaten Pamekasan, pengurus Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur, perwakilan organisasi kepemudaan (OKP) mahasiswa, serta sejumlah tokoh agama.
Ketua PAC GP Ansor Tlanakan, Achmad Jadid, mengatakan organisasi membutuhkan tata kelola yang profesional agar mampu berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat. Ia mengibaratkan pengelolaan Ansor seperti sebuah perusahaan yang memerlukan sistem manajemen yang kuat.
“Ansor ini ibarat perusahaan yang harus ditopang manajemen yang kokoh. Jika tata kelolanya bagus, organisasi akan terus melaju pesat. Begitu pula dengan Ansor, harus dikelola secara tertata agar kemajuannya dirasakan nyata,” kata Jadid.
Menurut dia, penguatan ideologi dan kemandirian ekonomi menjadi fondasi utama organisasi. Selain menjaga nilai-nilai perjuangan, kemandirian ekonomi juga diperlukan agar roda organisasi dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa bergantung pada pihak lain.
Jadid juga mengingatkan seluruh pengurus agar tidak memandang posisi yang diemban hanya sebagai jabatan administratif. Menurutnya, setiap posisi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Jabatan adalah amanah yang wajib kita pertanggungjawabkan dan jalankan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Musyaffa’ Syafril, menekankan pentingnya kepemimpinan yang efektif di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia mengatakan setiap kader yang dipercaya memimpin memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan estafet perjuangan para muassis NU.
Syafril menilai seorang ketua tidak cukup hanya mengandalkan kerja anggota. Pemimpin, kata dia, harus mampu mengambil inisiatif, menggerakkan seluruh potensi kader, sekaligus bertanggung jawab terhadap keberhasilan program organisasi.
“Ketua harus membuktikan efektivitas kepemimpinannya. Organisasi tidak akan jalan kalau ketua hanya berpangku tangan dan bergantung pada anggota. Seorang pemimpin harus sigap berinisiatif dan selalu siap berkhidmat,” kata Syafril. (*)






