SUMENEP,LensaMadura.com – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Asyfika STIT Aqidah Usymuni menggelar pelantikan pengurus masa khidmat 2026–2027 sekaligus kegiatan Sekolah Aswaja pada Sabtu–Minggu, 17–18 Oktober 2026, bertempat di Auditorium STIT Aqidah Usymuni.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Aswaja di Tengah Tren Keagamaan Generasi Digital.” Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah perkembangan tren keagamaan pada era digital.
Ketua UKM Asyfika, Nur Anisah Yuliana, mengajak seluruh pengurus untuk menjaga kekompakan dan rasa tanggung jawab dalam menjalankan amanah organisasi. Ia berharap UKM Asyfika tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan memberikan manfaat bagi kampus maupun masyarakat.
“Saya mengajak seluruh pengurus untuk menjaga kekompakan dan rasa tanggung jawab. Mari kita jadikan UKM Asyfika bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga tempat belajar, berkembang, dan memberikan manfaat bagi kampus serta masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya memahami dan mengamalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadikannya sebagai identitas organisasi atau golongan.
“Jangan hanya menjadikan Aswaja sebagai identitas, tetapi jadikanlah Aswaja sebagai nilai yang kita pahami, kita yakini, dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nur Anisah menjelaskan bahwa selain pelantikan pengurus, kegiatan tersebut juga diisi dengan Sekolah Aswaja yang merupakan agenda rutin UKM Asyfika dan diperuntukkan bagi seluruh mahasiswa STIT Aqidah Usymuni. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memperdalam pemahaman tentang Aswaja serta menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan akademik maupun bermasyarakat.
Sementara itu, Ketua BEM STITA, Moh. Lu’ay, menilai bahwa pemahaman terhadap Aswaja merupakan hal penting bagi mahasiswa, terutama karena STIT Aqidah Usymuni memiliki latar belakang keilmuan dan tradisi keagamaan yang berlandaskan Aswaja An-Nahdliyah.
“Sangat kurang etis kalau kita sebagai mahasiswa kampus yang mempunyai background Aswaja An-Nahdliyah tidak mengetahui nilai dan dasar-dasar Aswaja itu sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami nilai dan dasar Aswaja secara mendalam agar identitas keagamaan yang melekat pada lingkungan kampus tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga tercermin dalam pemikiran, sikap, dan perilaku sehari-hari.
Ketua Pelaksana, Moh. Nabil Fikri, turut berperan dalam menyukseskan rangkaian kegiatan pelantikan dan Sekolah Aswaja tersebut. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus membangun komitmen dalam berorganisasi.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STIT Aqidah Usymuni, Edyanto, menyampaikan bahwa pelaksanaan Sekolah Aswaja bagi mahasiswa baru merupakan instruksi langsung dari pendiri kampus, Dr. KH. H. Ahmad Syafradji. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya kampus untuk mengenalkan identitas serta nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah kepada mahasiswa sejak awal masa perkuliahan.
Melalui pelantikan pengurus dan Sekolah Aswaja ini, UKM Asyfika STITA diharapkan mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki pemahaman keagamaan yang kuat serta mampu mengamalkan nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari.






